Asian porn Modus Bejat Kiai Cabul di Banjarnegara Perkosa Santriwati, Beri Ijazah Lolohan
Banjarnegara –
Seorang kiai di pondok pesantren di Kabupaten Banjarnegara, N (52), diperkirakan mengerjakan pencabulan terhadap empat santriwati di bawah umur. Modusnya, tersangka menginginkan para korban memijat tubuhnya.
Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polres Banjarnegara, Iptu Ori Friliansa Primer. Keempat korban anak di bawah umur merupakan santriwati di pondok pesantren Nan didirikan tersangka.
“Tersangka mengerjakan perbuatannya berbarengan tapak memanggil para korban ke bagian dalam kamarnya hasilkan memijat,” ucapan Ori bagian dalam keterangan tertulis Nan diperoleh detikJateng, Selasa (30/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Awalnya hanya diminta hasilkan memijat bagian kaki kemudian diminta hasilkan memijat bagian alat kelaminnya,” lanjutnya.
dikarenakan tindakan kekerasan seksual Nan dikerjakan tersangka selaku kiai di ponpes tersebut, korban pun merasakan trauma dan ketakutan.
“Modusnya, tersangka berjanji akan memberi hadiah berupa ‘ijazah lolohan’ atau ilmu Nan Tak tertulis, agar Pandai mengaji,” tuturnya.
“Kemudian korban iman penuh berbarengan hal tersebut dikarenakan wibawa N Nan merupakan pendiri dan pengajar pada ponpes di mana korban mengaji,” lanjutnya.
Ori memaparkan kasus itu bermula dari laporan oleh orang Uzur korban pada April Lampau. Polisi kemudian mengerjakan penyelidikan dan terungkap N sedang melaksanakan ibadah haji, sehingga anyar diamankan Sabtu (20/6) ketika tiba di Indonesia.
“Tim Beralih Sigap menjaga tersangka di Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten,” ungkapnya.
Setelah ditangani, tersangka diangkut ke Polres Banjarnegara hasilkan dimintai keterangan dan ditahan di rutan Polres Banjarnegara pada Pekan (21/6). Tersangka dijerat Pasal 417 Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2023 mengenai Kitab Undang-Undang Republik Indonesia aturan Pidana Jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 mengenai Penyesuaian Pidana.
“berbarengan ancaman dipidana berbarengan pidana penjara paling lamban 9 tahun,” ucapan Beliau.
Korban Diberi Pendampingan Psikologis
Terpisah, pendamping kasus dari UPTD Perlindungan Wanita dan Anak (PPA) Banjarnegara, Endah Tursilowati, berucap keempat korban telah mendapatkan pendampingan psikologis sebanyak dua kali.
“hasilkan kondisi korban ketika ini telah Konsisten, telah kondusif. Kami telah memberikan pendampingan psikologi dua kali kepada korban,” ucapan Endah ketika dihubungi detikJateng.
Endah memaparkan seluruh korban Tetap berstatus anak, berbarengan jenjang pendidikan setara SMP hingga SMA. lebih sebelumnya mereka tinggal di asrama pondok dan belajar Religi sekaligus membuntuti pendidikan bundel di bagian luar pondok.
“Sekolahnya bundel C, bundel B, di situ kegiatannya hasilkan mengaji,” jelasnya.
Namun setelah kasus mencuat, seluruh korban memutuskan balik ke Griya masing-masing dan Tak lagi sebagai santri di pondok tersebut.
“Sekarang mereka di Griya masing-masing, Tak jadi santri lagi dikarenakan mereka Tak mau kembali ke pondok. Belum terpikirkan apakah mau pindah,” ujarnya.
“Kalau trauma ya Tetap trauma. Hanya setelah konseling, kondisinya telah Tak seperti mula sekali kami Berjumpa,” berikut Endah.
Korban Lain Diminta kabar
Kepala UPTD PPA DP3AP2KB Jateng, Yuli Arsianto, menambahkan terduga pelaku diperkirakan memanfaatkan posisinya sebagai kiai hasilkan mengelabui para korban.
“Modusnya mengelabui korban berbarengan menjanjikan sebuah ijazah Nan dikatakan ‘ijazah lolohan’, ijazah Tak tertulis agar Pandai mengaji,” ucapnya.
“Maksudnya ijazah ini seperti restu, dikasih amalan. Nah ijazah itu berbarengan tapak misal Perintah mijitin, Perintah megang, Agar Fasih agamanya. Ngalap berkahnya harus nuruti perintah kiai atau ustaz itu,” lanjutnya.
Yuli menuturkan terdapat indikasi dugaan peristiwa serupa telah menyusuri sejak lumayan melimpah orang Masa Lampau. Oleh dikarenakan itu, pihaknya mengakses posko pengaduan agar korban lain Nan belum iman penuh diri melapor mendapatkan ikut melapor.
“kelak kami akan mengakses posko pengaduan. Kalau Eksis Nan pernah merasakan tetapi belum iman penuh diri berucap, mendapatkan mengutarakan melalui layanan provinsi maupun Banjarnegara,” ujarnya.
Selain Konsentrasi pada pemulihan korban, pihaknya juga akan berkoordinasi berbarengan Kementerian Religi hasilkan membahas kondisi pondok pesantren dan menjamin santri lain mendapat perlindungan.
“Kami akan menjamin korban mendapatkan layanan. Kemudian santri Nan Tetap Eksis juga perlu diasesmen, siapa tahu Eksis Nan pernah merasakan tetapi belum iman penuh diri speak up,” tuturnya.
“berita dari Kepala Kemenag Banjarnegara, tim Kemenag sedang di Letak pondok dan program mau mencabut persetujuan operasional pondok dan memberitakan ke Kanwil Kemenag Jateng,” sambungnya.
(ams/alg)



Leave a Reply