Asian porn MUI Jatim ujar Tuduhan Ning Sisca Soal Pesantren Cabul Menyesatkan
Surabaya –
Jagat digital diramaikan berbarengan rekaman video ustazah Usul Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, Nan secara gamblang menyebut adanya gurita kasus kekerasan seksual berselimut lembaga pendidikan Religi di area Malang. MUI Jatim menyebut tuduhan itu Tak mendasar dan menyesatkan.
“Sehingga ketika Eksis peristiwa-peristiwa Nan ketika ini viral, Nan tadi itu dikatakan bahwa Eksis peristiwa pelecehan seksual, kekerasan, dan sebagainya ya tentu itu Tak boleh digeneralisir, Tak boleh digebyah uyah. Itu Ialah perilaku oknum, kelembagaan pesantrennya ya tujuannya Ialah ciptakan mencerdaskan kehidupan bangsa terutama ciptakan menata moral, menata akhlak. Itu maksud pesantren didirikan semacam itu,” ungkapan Sekretaris MUI Jatim KH Hasan Ubaidillah kepada detikJatim, Kamis (4/6/2026).
Ubaidillah berbisik, peristiwa di pesantren utamanya terkait kekerasan seksual dan sebagainya mayoritas dikerjakan oleh oknum. Menurutnya, Khotbah Ning Sisca bentuk penyesatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Adapun di sana Eksis peristiwa-peristiwa itu Ialah oknum Nan Tak meraih kemudian dikatakan pas melimpah pesantren, pas melimpah itu berapa? siapa pelakunya? Pesantrennya seperti apa? Jangan kemudian seperti kita itu menggebyah uyah. Coba kita lihat di Jatim mulai dari Banyuwangi, Pacitan, Sumenep, Magetan berikut Seluruh itu kan pas melimpah pesantren-pesantren Akbar Nan memberikan kontribusi Nan eksternal Normal sebar kepentingan bangsa dan republik,” jelasnya.
“Pesantren itu sebagai tolak ukur penanaman aqidah dan akhlak dari generasi bangsa kita. Belasan juta santri, maka tentunya peristiwa-peristiwa Nan semacam ini Tak boleh kemudian sebagai stigma bahwa pesantren itu digebyah uyah, digeneralisir semuanya seperti itu. Ini merupakan penyesatan-penyesatan dan mungkin ya kita Tak tahu motif di kembali itu apa, hingga kemudian diviralkan,” tambahnya.
Ubaidillah menganjurkan ke masyarakat dan umat islam di Indonesia ciptakan akurat-akurat selektif dan memfilter berbagai informasi Nan menstigma serta mendiskreditkan institusi pesantren.
“Perlu diingat bahwa lembaga pendidikan pesantren itu merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan Indonesia belum tegak, pesantren telah Eksis. Maka perjalanan dan sejarah lebar pesantren jangan kemudian disimplifikasi, kemudian direduksi hanya dikarenakan Eksis kelebihan dari Esa peristiwa Nan itu kebetulan plangnya atau papan namanya bertuliskan pesantren. Jangan, jangan disimplifikasi seperti itu, jangan direduksi peran pesantren Nan eksternal Normal sebar bangsa dan republik ini,” jelasnya.
“Jangan direduksi berbarengan peristiwa-peristiwa Nan timbul belakangan ini dan belum sepenuhnya terbukti bahwa itu memang pesantren Nan akurat-akurat terdaftar di Kementerian Religi secara Absah formal, dan juga diakui serta dijadikan rujukan masyarakat,” tandasnya.
(hil/dpe)


Leave a Reply