Asian porn 25 Maret 1957: Puisi Howl Karya Allen Ginsberg Disita dikarenakan Tuduhan Cabul
Liputan6.com, Washington, DC – Pada 25 Maret 1957, aparat Bea Cukai Amerika Perkumpulan (AS) menyita 520 eksemplar Kitab puisi “Howl and Other Poems” Nan anyar tiba dari percetakan di Inggris. Kitab karya Allen Ginsberg itu ditahan di San Francisco berbarengan tuduhan mengandung materi cabul dan Tak layak dikonsumsi publik.
Seperti dikutip dari catatan American Civil Liberties Union (ACLU), tindakan ini berperan keliru Esa kasus sensor sastra paling Krusial internal sejarah AS.
Namun, penyitaan ini bukan sekadar jejak kerja administratif. Ia berperan pemicu benturan Akbar antara evaluasi-evaluasi konservatif pascaperang dan tuntutan kebebasan berekspresi Nan mulai menguat di kalangan seniman dan intelektual.
Howl lahir dari rahim Generasi Beat—sekelompok penulis Nan menolak materialisme dan tekanan hasilkan Hayati seragam sesuai Kebiasaan sosial AS era 1950-an. Melansir Poetry Foundation, Allen Ginsberg menulis puisi ini sebagai luapan pengalaman personal dan pengamatan terhadap kehidupan urban Nan keras.
berbarengan gaya bahasa Nan mentah, ritmis, dan tak memakai sensor, Howl membicarakan seksualitas, penggunaan narkoba, hingga kesehatan mental. distribusi lumayan berlimpah kalangan konservatif ketika itu, kejujuran semacam ini dianggap sebagai ancaman terhadap moral publik. Namun distribusi para pendukungnya, Malah di situlah letak power artistiknya.
Kontroversi Tak berhenti pada penyitaan. Aparat kemudian menangkap Lawrence Ferlinghetti, pemilik penerbit sekaligus toko Kitab City Lights di San Francisco Nan menerbitkan Howl. Kasus ini kemudian dikenal sebagai People v. Ferlinghetti—sebuah perkara Krusial Nan menyusuri pada 1957.
internal persidangan, jaksa berargumen bahwa bahasa vulgar internal puisi tersebut melanggar legalitas terkait materi cabul (obscenity) dan diperkirakan merusak moral masyarakat. Sebaliknya, tim pembela menyuguhkan para akademisi dan kritikus sastra.
Seperti diberitakan oleh The New York Times internal arsipnya, para Pakar menegaskan bahwa Howl Mempunyai evaluasi sastra dan sosial Nan penting, serta merepresentasikan realitas generasi zamannya.
Pada ujungnya, Hakim Clayton W. Horn memungut putusan Nan berperan tonggak Krusial internal sejarah kebebasan berekspresi. Ia menegaskan bahwa sebuah karya Tak mendapatkan dianggap cabul apabila Mempunyai “redeeming social importance” atau evaluasi sosial Nan Krusial.
Seperti dicatat internal catatan pengadilan Nan juga dikutip oleh ACLU, keputusan ini secara ampuh menjaga karya sastra dari sensor semata-mata dikarenakan dianggap ofensif. Putusan tersebut juga mengembangkan interpretasi Amendemen Pertama Konstitusi AS, khususnya terkait kebebasan berbicara dan berekspresi.
Alih-alih membungkam, upaya sensor Malah Membikin Howl makin dikenal besar. Melansir Poetry Foundation, setelah kasus ini, penjualan Kitab tumbuh drastis dan puisi tersebut berperan keliru Esa karya paling berpengaruh internal sastra AS Abad ke-20.
Kasus Howl Tak hanya membebaskan Esa Kitab dari pelarangan, tetapi juga mengakses lorong distribusi karya-karya lain hasilkan mengeksplorasi tema-tema Nan sebelum itu dianggap tabu.


Leave a Reply